Virus corona dan dampaknya pada pendidikan global

Virus corona dan dampaknya pada pendidikan global

Tenaga dan peserta didik di seluruh dunia merasakan betul dampak yang luar biasa dari wabah virus corona yang pertama kali muncul di China. Akibat pandemi yang sudah menyebar ke 156 negara itu, banyak sekolah-sekolah terpaksa diliburkan.
ABC News melaporkan setidaknya ada 22 negara di tiga benua yang menutup sekolah mereka selama pandemi masih membayangi warganya. Sekolah-sekolah itu menampung ratusan juta siswa dari seluruh dunia. Dalam laporannya, ABC News juga mencatat ada 13 negara yang menutup sekolah di seluruh penjuru negeri.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi gusar dengan adanya fakta tersebut. Organisasi Internasional yang bermarkas di New York, AS, itu menangkap bahwa pendidikan menjadi salah satu sektor yang begitu terdampak oleh virus corona. Parahnya lagi, hal itu terjadi dalam tempo yang cepat dan skala yang luas.

Berdasarkan laporan ABC News 7 Maret 2020, penutupan sekolah terjadi di lebih dari puluhan negara karena wabah COVID-19. Menurut data Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), setidaknya ada 290,5 juta siswa di seluruh dunia yang aktivitas belajarnya menjadi terganggu akibat sekolah yang ditutup.

Hal ini jelas menjadi perhatian Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay. “Kami bekerja sama dengan negara-negara di dunia demi memastikan kesinambungan pembelajaran bagi semuanya, terutama anak-anak dan remaja yang kurang beruntung yang cenderung paling terpukul oleh penutupan sekolah,” ujar Azoulay.
“Penutupan sekolah untuk sementara waktu dengan alasan kesehatan dan krisis lainnya bukanlah hal yang pertama kalinya terjadi, namun kali ini dampak yang ditimbulkan memang tak tertandingi karena berlangsung sangat cepat dan berdampak secara global. Jika ini terus berlanjut maka bukan tidak mungkin akan mengancam hak atas pendidikan,” imbuhnya.

Mulanya, China menjadi satu-satunya negara yang mewajibkan penutupan sekolah. Seperti diketahui, virus corona SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, muncul pertama kali di Wuhan, Provinsi Hubei, pada penghujung tahun 2019.
Kala itu, CDC menyalurkan bantuan dengan membagikan panduan tentang bagaimana menghadapi COVID-19 berdasarkan apa yang diketahui tentang tingkat keparahan dan penularan penyakit.
CDC menyarankan pihak sekolah untuk bekerja sama dengan departemen kesehatan setempat. Kepentingannya tentu saja agar diseminasi informasi terkait COVID-19 tersampaikan dengan baik kepada siswa.

Selain itu, CDC ingin memastikan agar tenaga dan peserta didik mampu menghadapi situasi darurat dari pandemi yang berlangsung. Pihak mereka juga meminta sekolah tetap memantau aktivitas siswa meski pada akhirnya sekolah terpaksa ditutup.
“Rencana sekolah harus dirancang sedemikian rupa untuk meminimalisir kendala aktivitas belajar dan mengajar serta untuk melindungi siswa dan staf dari stigma dan diskriminasi sosial,” kata CDC.
“Rencana dapat dibangun berdasarkan praktik sehari-hari yang mencakup strategi sebelum, selama, dan setelah wabah berakhir.”

Seperti diketahui, Italia merupakan negara di Eropa yang sedang mati-matian berjuang melawan wabah corona. Jumlah kasus serta angka kematian akibat COVID-19 sangat tinggi di sana.
Dilansir Worldometers, per Selasa (24/3), jumlah kasus positif coronavirus menyentuh angka 63.927. Sementara yang telah dinyatakan sembuh sebanyak 7.432 orang dan 6.077 orang meninggal dunia.
Sebagai negara dengan angka kematian tertinggi, pemerintah Italia telah menerapkan kebijakan lockdown sejak 9 Maret 2020 lalu. Semua fasilitas umum ditutup untuk publik, tak terkecuali sekolah.
Namun jauh sebelum berbagai penjuru negeri ‘dikunci’, Menteri Pendidikan Italia Lucia Azzolina lebih dulu bergerak, sejak 2 Maret 2020, ia mengumumkan bahwa semua sekolah akan ditutup secara nasional selama dua pekan hingga 15 maret 2020.

Di tingkat perguruan tinggi, wabah virus corona juga menunjukkan intervensinya. Gara-gara COVID-19, program pertukaran mahasiswa antarnegara harus disetop. Ini banyak dilakukan oleh universitas di AS.
Melihat kondisi Italia yang merana karena corona, beberapa universitas meminta seluruh mahasiswanya kembali dari program study exchange di Italia. Kebijakan ini menyusul keputusan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) yang menempatkan Italia dari status darurat Level 2 ke Level 3 pada 26 Februari lalu.
Universitas Elon, Universitas Fairfield, Universitas Internasional Florida, Universitas Tampa, Universitas Gonzaga, Universitas Loyola Chicago, Universitas Miami-Ohio, Universitas Negeri Penn, Universitas Stanford, Universitas Syracuse, Universitas Taman Maryland-College, Universitas Miami dan Universitas Villanova telah meminta mahasiswa mereka untuk segera meninggalkan Italia dan kembali ke AS.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *